BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
PDAM
merupakan perusahaan milik daerah yang bergerak di bidang pengolahan dan
pendistribusian air bersih. Beberapa fasilitas yang dimiliki dalam pemprosesan
air bersih antara lain intake, menara air, clarifier, pulsator, filter, dan
reservoir. Semua peralatan-peralatan tadi dapat dioperasikan melalui sistem komputer yang ada, selain berbagai macam peralatan, PDAM
juga menggunakan bahan kimia seperti kaporit dan tawas dalam proses pengolahan
air bersih. Air yang diproduksi dipantau kualitasnya oleh laboratorium, sehingga air yang dihasilkan selalu
memenuhi standar kesehatan air bersih.
Penggunaan
bahan kimia yaitu kaporit adalah pada pemprosesan air di menara air baku.
Menara air baku berfungsi mengontrol dan mengatur laju air dan tinggi permukaan
air baku agar tetap konstan, sehingga proses pengolahan berupa pembubuhan bahan
kimia, koagulasi, pengendapan, dan penyaringan dapat berjalan dengan baik serta
maksimal.
Kaporit atau klorin merupakan bahan utama yang
digunakan untuk proses khlorinasi.
Khlorinasi adalah upaya disinfeksi kuman penyakit pada air baku, air bersih
atau air minum, sebenarnya
proses khlorinasi tersebut sangat efektif untuk menghilangkan kuman penyakit
terutama bila kita menggunakan air PAM,
tetapi
klorin juga bisa berbahaya bagi kesehatan kita, dalam hal ini adalah penggunaan alat
pelindung diri (APD).
Alat
Pelindung Diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk
melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan
adanya potensi bahaya atau kecelakaan
kerja. Sehingga dalam pekerjaan ini memerlukan alat pelindung diri seperti
masker, boot, dan sarung tangan.
Bahaya
kaporit sangat besar bagi tubuh apabila sampai terhirup dalam waktu yang lama.
Penambahan kaporit ke dalam air akan menghasilkan senyawa kimia sampingan yang
bernama Trihalometana (THM). Senyawa ini banyak diklaim oleh para pakar air di
luar negeri sebagai penyebab produksi radikal bebas dalam tubuh (mengakibatkan
kerusakan sel dan bersifat karsinogenik), dan
seringkali kesehatan dan keselamatan kerja petugas PDAM tidak terjamin dengan
baik. Berdasarkan hal inilah maka peneliti ingin meninjau hubungan ketertiban
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan vital sign petugas
PDAM.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara paparan
kaporit terhirup dengan vital
sign petugas PDAM?
2. Bagaimana hubungan antara paparan kaporit terhirup dengan
vital sign petugas PDAM?
3. Bagaimana
proses pengolahan air minum di instalasi PDAM ?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara paparan kaporit terhirup
dengan vital sign petugas PDAM.
2. Untuk
mengetahui hubungan antara
paparan kaporit terhirup dengan vital
sign petugas PDAM.
3. Untuk
mengetahui proses pengolahan air minum di Instalasi PDAM.
D. Manfaat Penelitian
Dapat memberikan informasi tentang dampak paparan
kaporit terhirup terhadap vital sign petugas PDAM.
E. Definisi Operasional
1. PDAM
adalah Perusahaan daerah yang mengelola dan memproses air bersih untuk
dikonsumsi masyarakat umum. Penelitian dilakukan pada unit IKK PDAM Bantul yang
berlokasi di kamijoro dan guwasari.
2. Alat
Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja
untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi
bahaya/kecelakaan kerja.
3. Ketertiban
menggunakan Alat Pelindung Diri yang dimaksud adalah selalu menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD) pada saat bekerja terutama saat kontak langsung dengan
bahan kimia.
4. Kaporit
adalah bahan kimia yang berfungsi sebagai desinfektan untuk mereduksi bakteri
secara umum dan membunuh bakteri pathogen. Kaporit yang dimaksud adalah yang
berupa bubuk (sodium).
5. Vital sign adalah tanda-tanda vital yang
ditimbulkan oleh makhluk hidup karena adanya stimulasi dari dalam maupun dari
luar tubuh. Vital sign yang diukur adalah tekanan darah,
frekuensi denyut nadi, dan frekuensi pernapasan.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian
ini merupakan jenis penelitian deskriptif-eksploratif..
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat :
Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro, Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan,
Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
2. Waktu :
November - Desember 2012
C. Subjek
Penelitian
Semua petugas PDAM pada instalasi
Kamijoro dan instalasi Guwasari kabupaten Bantul.
D.
Variabel Penelitian
Variabel bebas :
Alat Pelindung Diri (APD)
Variabel tergayut :
Respon biologis
E. Metode Pengumpulan Data
Metode
dan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu dengan
cara sebagai berikut:
1. Observasi
Peneliti secara
langsung mengamati proses penyebaran
kaporit pada PDAM di Kabupaten Bantul. Pada saat dilakukan
observasi maka diperlukan lembar observasi yang telah dimodifikasi dari buku
pengantar kesehatan lingkungan. Lembar observasi akan diisi oleh semua petugas
PDAM.
Tujuan dari
observasi ini yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai langkah-langkah penyebaran kaporit yang mampu dilihat
oleh indera peneliti.
2. Interview
(Wawancara)
Peneliti secara
langsung menanyakan kepada
orang-orang yang bertugas dalam kegiatan penyebaran kaporit di PDAM. Tujuan
dari wawancara ini yaitu untuk mengumpulkan data mengenai apa yang tidak dapat
diketahui secara langsung sehingga perlu diadakan pertanyaan, hal ini sebagai
data pendukung teknik observasi sehingga data yang diperoleh valid.
3.
Quisioner
Peneliti
memberikan quisioner kepada responden untuk mengetahui kemungkinan faktor
lainnya yang mempengaruhi respon biologis petugas PDAM.
4. Kajian
Literatur
Tujuan dari
kajian literatur ini adalah untuk memperoleh
data yang valid, hal ini dapat diketahui dengan membandingkan data yang
diperoleh dari hasil penelitian dengan teori yang ada, selain itu juga untuk
mendukung data yang akan dapat diperoleh.
F. Alat dan Bahan
a. Kamera
b. Alat
tulis
c. Alat
pengukur tekanan darah (Tensoval)
d. Tissue
e. Stopwatch
f. Lembar
Quisioner
G. Cara
Kerja
a. Mengunjungi
Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro, Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan,
Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
b. Melakukan
wawancara kepada pihak PDAM.
c. Memberi
quisioner dan mengukur respon biologis petugas PDAM.
d. Melakukan
pengamatan secara langsung terhadap kegiatan penyebaran kaporit dan pengolahan
air minum.
e. Mendokumentasikan
dan menganalisis data yang diperoleh.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Penelitian mengenai Hubungan ketertiban menggunakan
Alat Pelindung Diri (APD) dengan respon biologis petugas Perusahaan Air Minum
(PDAM) dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro yang terletak di
Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan
Air Minum Guwasari dan diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Hasil
Observasi dan Pemeriksaan Respon Biologis
|
No.
|
Responden
|
Lama Bekerja
|
Pekerjaan
|
Respon biologis
|
||||
|
BB (Kg)
|
TB (Cm)
|
T. Darah (mmHg)
|
F. Denyut Nadi (s)
|
F. Pernafasan (s)
|
||||
|
1.
|
Rudi
|
2
thn
|
Operator
|
67
|
172
|
106/66
|
71
|
26
|
|
2.
|
Agus
|
21
thn
|
Operator
|
57
|
174
|
111/78
|
72
|
23
|
|
3.
|
Nurrofiq
|
3
hr
|
Operator
|
49
|
165
|
110/75
|
75
|
22
|
|
4.
|
Amir
|
26
thn
|
Mantan
operator
|
70
|
164
|
138/91
|
89
|
26
|
|
5. n
|
Nita
|
1,5
thn
|
Staf Lab
|
61
|
160
|
111/68
|
91
|
32
|
|
6.
|
Ema
|
1,5
thn
|
Staf
Lab
|
59
|
161
|
110/69
|
86
|
30
|
|
7.
|
Epi
|
1
thn
|
Administrasi
|
50
|
168
|
123/87
|
79
|
22
|
|
8.
|
Heri
|
3
thn
|
Administrasi
|
54
|
168
|
127/71
|
78
|
22
|
|
9.
|
Sutekno
|
26
thn
|
Instalasi
|
72
|
173
|
113/73
|
73
|
20
|
B.
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan pada Instalasi Pengolahan
Air Minum Kamijoro Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
a.
Analisis
Tabel Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dianalisis
dalam tabel sebagai berikut.
Tabel
2. Jenis pekerjaan (Operator dan nonoperator)
|
Kategori pekerjaan
|
Responden
|
Indeks Massa Tubuh (IMT)
|
Tekanan Darah
|
FDN
|
FP
|
|
Operator
|
Rudi
|
22,6
|
106/66
|
71
|
26
|
|
Agus
|
18,9
|
111/78
|
72
|
23
|
|
|
nurrofiq
|
18
|
110/75
|
75
|
22
|
|
|
Rata-rata
|
19,8
|
109/73
|
72,7
|
23,7
|
|
|
Nonoperator
|
Amir
|
26
|
138/91
|
89
|
26
|
|
Nita
|
23,8
|
111/68
|
91
|
32
|
|
|
Ema
|
22,7
|
110/69
|
86
|
30
|
|
|
Epi
|
17,7
|
123/87
|
79
|
22
|
|
|
Heri
|
19,1
|
127/71
|
78
|
22
|
|
|
Sutekno
|
24
|
113/73
|
73
|
20
|
|
|
Rata-rata
|
22,2
|
120,3/76,5
|
82,7
|
25,3
|
|
Pada Instalasi PDAM Kamijoro hanya ada dua operator
yang diwawancarai yaitu Rudi dan Nurrofiq. Nurrofiq baru bekerja 3 hari.
Sedangkan pada Instalasi PDAM Guwasari ada satu operator yang diwawancarai. Pada
petugas operator, rata-rata Indeks Massa Tubuh (IMT) ideal atau normal. Tekanan
darah pada ketiga operator adalah rendah. Karena berdasarkan teori, tekanan
darah normal adalah sebagai berikut:
Tabel
3. Tekanan darah normal manusia (sumber….)
|
No
|
Kategori
|
Tekanan
Sistole (mm Hg )
|
Tekanan
Diastole (mm Hg )
|
|
1
2
|
Laki- laki dewasa
Perempuan dewasa
|
124
– 136
124
– 127
|
77
– 84
63
– 74
|
Frekuensi denyut nadi masing-masing petugas operator
adalah 71, 72, 75 yang menunjukkan normal karena berdasarkan teori, frekuensi
denyut nadi normal usia lebih dari 21 tahun adalah 69 – 100 x/menit. Untuk
frekuensi pernapasan adalah 26, 23, 22 yang menunjukkan bahwa frekuensi
pernapasannya normal. Karena frekuensi pernapasan adalah dewasa 16 – 25
x/menit.
Petugas non operator berjumlah enam orang. Empat
orang dari Instalasi PDAM Kamijoro dan dua orang dari Instalasi PDAM Guwasari. Nita,
Ema, dan Sutekno memiliki rata-rata tekanan darah yang rendah, Epi dan Heri
memiliki tekanan darah normal, sedangkan Amir memiliki tekanan darah yang
tinggi. Tekanan darah Amir tinggi kemungkinan karena kurangnya aktivitas dimana
Amir adalah kepala bagian produksi yang tidak melakukan aktifitas berat dan
hanya mengunjungi unit-unit pada saat tertentu saja. Frekuensi denyut nadi
petugas non operator rata-rata normal. Namun diantaranya Nita memiliki
frekuensi denyut nadi yang tinggi. Kemungkinan disebabkan karena Nita sedang
dalam keadaan hamil 7 bulan. Untuk frekuensi pernapasan rata-rata normal. Hanya
Nita dan Ema yang memiliki frekuensi pernapasan tinggi. Kemungkinan karena Nita
sedang hamil, sedangkan Ema baru saja selesai melakukan aktifitas.
Berdasarkan penjelasan diatas, tidak dapat
disimpulkan adanya pengaruh antara petugas operator dan petugas non operator
karena jumlahnya yang tidak seimbang yakni 3 petugas operator dan 6 petugas non
operator. Selain itu, respon biologis tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan.
Tabel
4. Lama bekerja Responden
|
Lama bekerja
|
Responden
|
Indeks Massa Tubuh (IMT)
|
Tekanan Darah
|
FDN
|
FP
|
|
3 hari
|
Nurrofiq
|
18
|
110/75
|
75
|
22
|
|
1-5 tahun
|
Rudi
|
22,6
|
106/66
|
71
|
26
|
|
Nita
|
23,8
|
111/68
|
91
|
32
|
|
|
Ema
|
22,7
|
110/69
|
86
|
30
|
|
|
Epi
|
17,7
|
123/87
|
79
|
22
|
|
|
Heri
|
19,1
|
127/71
|
78
|
22
|
|
|
Rata-rata
|
21,18
|
115,4/72,2
|
81
|
26,4
|
|
|
20-30 tahun
|
Agus
|
18,9
|
111/78
|
72
|
23
|
|
Amir
|
26
|
138/91
|
89
|
26
|
|
|
Sutekno
|
24
|
113/73
|
73
|
20
|
|
|
Rata-rata
|
22,9
|
120,7/80,7
|
78
|
23
|
|
Pada tabel 3. Nurrofiq baru bekerja 3 hari dan belum
sama sekali kontak langsung dengan kaporit. Indeks Massa Tubuh (IMT) nya ideal.
Tekanan darahnya dibawah normal, namun frekuensi denyut nadi dan frekuensi
pernapasan normal.
Petugas yang lama bekerja 1-5 tahun yakni Rudi,
Nita, Ema, Epi, dan Heri. Indeks Massa Tubuh (IMT) rata-rata adalah normal.
Kecuali Nita adalah 23,8 kemungkinan karena sedang dalam keadaan hamil. Frekuensi
denyut nadi rata-rata normal, frekuensi pernapasan rata-rata normal kecuali
Nita dan Ema yaitu 32 dan 30 kali/menit.
Petugas yang
lama bekerja 20-30 tahun yaitu Agus, Amir, dan Sutekno. IMT Agus ideal
sedangkan Amir dan Sutekno tidak ideal yaitu 26 dan 24. Hal ini kemungkinan
disebabkan frekuensi waktu bekerjanya kurang dan kurang beraktivitas. Frekuensi
denyut nadi rata-rata normal sedangkan frekuensi pernapasan untuk Amir tidak
normal.
Berdasarkan penjelasan diatas, lama bekerja
berpengaruh terhadap respon biologis petugas PDAM. Pada kasus ini, peningkatan
jabatan menyebabkan kurangnya aktivitas dan frekuensi waktu bekerja yang rendah
sehingga mempengaruhi respon biologis petugas PDAM.
Tabel
5. Jenis kelamin Responden
|
Jenis kelamin
|
Responden
|
Indeks Massa Tubuh (IMT)
|
Tekanan Darah
|
FDN
|
FP
|
|
Laki-laki
|
Rudi
|
22,6
|
106/66
|
71
|
26
|
|
Agus
|
18,9
|
111/78
|
72
|
23
|
|
|
nurrofiq
|
18
|
110/75
|
75
|
22
|
|
|
Amir
|
26
|
138/91
|
89
|
26
|
|
|
Epi
|
17,7
|
123/87
|
79
|
22
|
|
|
Heri
|
19,1
|
127/71
|
78
|
22
|
|
|
Sutekno
|
24
|
113/73
|
73
|
20
|
|
|
Rata-rata
|
20,9
|
118,3/77,3
|
76,7
|
23
|
|
|
Perempuan
|
Nita
|
23,8
|
111/68
|
91
|
32
|
|
Ema
|
22,7
|
110/69
|
86
|
30
|
|
|
Rata-rata
|
23,25
|
110,5/68,5
|
88,5
|
31
|
|
Pada tabel 4. Jumlah responden laki-laki sebanyak 7
orang dan responden wanita sebayak 2 orang. Rata-rata IMT responden laki-laki
normal yaitu 20,9 kecuali Amir dan Sutekno. Tekanan darah rata-rata rendah,
frekuensi denyut nadi rata-rata normal, dan frekuensi pernapasan rata-rata
normal.
Pada responden perempuan, rata-rata tekanan darah
rendah, frekuensi denyut nadi normal, namun frekuensi pernapasan diatas normal.
Responden Nita sedang dalam keadaan hamil 7 bulan.
Berdasarkan penjelasan diatas, tidak ada perbedaan
yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hanya pada frekuensi pernapasan
tidak normal, hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor luar yakni kehamilan
dan aktivitas.
b.
Proses
Pembubuhan Kaporit
Tipe
instalasi pada kedua unit pengolahan air minum tersebut adalah pengolahan air
permukaan dengan sumber air bakunya adalah air sungai Progo. Sistem pengolahan
air di kedua unit pengolahan air minum tersebut adalah pengolahan lengkap yang
terdiri dari proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan
desinfeksi.
1.
Koagulasi yaitu proses pembubuhan bahan kimia
Al2(SO4)3 (Tawas) kedalam air agar
kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna organik,
lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.
2.
Flokulasi yaitu proses
pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku (air
sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan terjadi dengan baik jika di
tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai) kemudian dilakukan pengadukan
lambat.
3.
Sedimentasi
Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan
sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap
air akan tampak lebih jernih.
4. Filtrasi
Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat
diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan
berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih
melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus
dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang
telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir
silika.
5.
Desinfeksi yaitu Pemberian desinfektan (kaporit) pada air hasil penyaringan
bertujuan agar dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan
menghilangkan bakteri pathogen (bakteri penyebeb penyakit).
Kaporit digunakan pada proses terakhir setelah air
sudah jernih dan bebas dari kotoran. Proses tersebut adalah proses disinfektan
yaitu proses mereduksi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri
patogen. Air yang sudah diproses, masuk kedalam
gentong yang berisi kaporit yang telah dialirkan melalui pipa-pipa kecil. Air
tersebut kemudian sudah dapat didistribusikan ke masyarakat.
Pada pembubuhan kaporit, prosesnya tidak begitu
rumit, tidak memerlukan waktu yang lama, dan tidak memerlukan banyak tenaga
manusia. Kaporit yang dibubuhkan adalah
± 5 kg, pembubuhan ini dilakukan tiga kali seminggu pada pagi, siang, dan
malam. Proses pembubuhan kaporit dilakukan didalam ruangan dengan cara langsung
dimasukkan kedalam gentong, pada proses ini operator menggunakan masker dan
ditutup lagi dengan kain atau kaos sehingga benar-benar terlindungi dari
kaporit. Setelah itu, dialirkan ke gentong selanjutnya yang kemudian di mixer
secara otomatis dan terakhir dialirkan melalui pipa-pipa kecil menuju
instalasi.
c.
Pengaruh
faktor lain
Pada lembar
quisioner, responden yang merokok adalah petugas administrasi yang tidak
langsung turun lapangan namun respon biologisnya rata-rata normal. Sedangkan
operator atau petugas penyebar kaporit hanya Rudi yang dahulu pernah merokok
namun tidak menunjukkan respon biologis yang tidak normal. Petugas operator
tidak merasakan gejala-gejala yang timbul setelah menebar kaporit, riwayat
penyakit pun tidak ada. Petugas operator tidak mengonsumsi suplemen, dan tidak
memiliki pekerjaan sampingan. Petugas operator juga mengaku bahwa mereka
diharuskan dan selalu menggunakan masker atau kain.
Pada petugas
staf lab, ada seorang wanita yaitu Nita yang sedang hamil 7 bulan sehingga
menunjukkan respon biologis yang rata-rata diatas normal atau tinggi.
Berdasarkan
keseluruhan pembahasan, hubungan antara ketertiban menggunakan Alat Pelindung
Diri (APD) dengan Respon Biologis Petugas PDAM belum dapat diketahui karena
beberapa faktor, antara lain:
1. Petugas
operator yang berhasil diwawancarai hanya 3 orang dan yang aktif bekerja hanya
2 orang, karena salah satu merupakan pegawai baru. Sehingga data ini tidak
dapat mewakili keseluruhan operator untuk sampai pada simpulan akhir.
2. Pembubuhan
kaporit langsung pada gentong yang disiapkan kemudian di campur sebentar lalu
langsung teralirkan ke gentong berikutnya. Gentong tersebut tinggi sehingga
kapasitas bubuk kaporit yang terhirup sedikit dan yang terkena kulit atau mata
sangat rendah.
3. Alat
mixer dengan otomatis akan mencampur kaporit dengan air sehingga tidak banyak
membutuhkan bantuan manusia.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
data pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Faktor
yang mempengaruhi respon biologis petugas PDAM, antara lain: Umur, lama
bekerja, kondisi individual petugas (hamil), jenis pekerjaaan.
2. Belum
dapat diketahui adanya antara hubungan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
dengan vital sign petugas PDAM karena
keterbatasan operator, waktu, dan jarak unit yang sangat jauh, serta lama
bekerja.
Pengolahan
air minum di Instalasi PDAM Kamijoro dan Guwasari meliputi tahap-tahap yaitu proses
koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.
B.
Saran
Penelitian
selanjutnya diharapkan agar dapat mewawancarai lebih banyak lagi operator PDAM
agar dapat mengetahui hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
dengan vital sign petugas PDAM.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2011. Bahaya Kaporit Pada Air. Diakses pada http://abdisatya.blogspot.com/2011/05/bahaya-kaporit-pada-air.html
hari kamis, 11 Oktober 2012.
Anonim,2011. Bahaya Kaporit. Diakses pada http://bahayakaporit.blogspot.com/
hari kamis, 11 Oktober 2012.






0 komentar:
Posting Komentar