This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 Desember 2014

HUBUNGAN KETERTIBAN MENGGUNAKAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) TERHADAP VITAL SIGN PETUGAS PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) KABUPATEN BANTUL

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
PDAM merupakan perusahaan milik daerah yang bergerak di bidang pengolahan dan pendistribusian air bersih. Beberapa fasilitas yang dimiliki dalam pemprosesan air bersih antara lain intake, menara air, clarifier, pulsator, filter, dan reservoir. Semua peralatan-peralatan tadi dapat dioperasikan melalui sistem komputer yang ada, selain berbagai macam peralatan, PDAM juga menggunakan bahan kimia seperti kaporit dan tawas dalam proses pengolahan air bersih. Air yang diproduksi dipantau kualitasnya oleh laboratorium, sehingga air yang dihasilkan selalu memenuhi standar kesehatan air bersih.
Penggunaan bahan kimia yaitu kaporit adalah pada pemprosesan air di menara air baku. Menara air baku berfungsi mengontrol dan mengatur laju air dan tinggi permukaan air baku agar tetap konstan, sehingga proses pengolahan berupa pembubuhan bahan kimia, koagulasi, pengendapan, dan penyaringan dapat berjalan dengan baik serta maksimal.
Kaporit atau klorin merupakan bahan utama yang digunakan untuk  proses khlorinasi. Khlorinasi adalah upaya disinfeksi kuman penyakit pada air baku, air bersih atau air minum, sebenarnya proses khlorinasi tersebut sangat efektif untuk menghilangkan kuman penyakit terutama bila kita menggunakan air PAM, tetapi klorin juga bisa berbahaya bagi kesehatan kita, dalam hal ini adalah penggunaan alat pelindung diri (APD).
Alat Pelindung Diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi  seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Sehingga dalam pekerjaan ini memerlukan alat pelindung diri seperti masker, boot, dan sarung tangan.
Bahaya kaporit sangat besar bagi tubuh apabila sampai terhirup dalam waktu yang lama. Penambahan kaporit ke dalam air akan menghasilkan senyawa kimia sampingan yang bernama Trihalometana (THM). Senyawa ini banyak diklaim oleh para pakar air di luar negeri sebagai penyebab produksi radikal bebas dalam tubuh (mengakibatkan kerusakan sel dan bersifat karsinogenik), dan seringkali kesehatan dan keselamatan kerja petugas PDAM tidak terjamin dengan baik. Berdasarkan hal inilah maka peneliti ingin meninjau hubungan ketertiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan vital sign petugas PDAM.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara paparan kaporit terhirup dengan vital sign petugas PDAM?
2.      Bagaimana hubungan antara paparan kaporit terhirup dengan vital sign petugas PDAM?
3.      Bagaimana proses pengolahan air minum di instalasi PDAM ?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara paparan kaporit terhirup dengan vital sign petugas PDAM.
2.      Untuk mengetahui hubungan antara paparan kaporit terhirup dengan vital sign petugas PDAM.
3.      Untuk mengetahui proses pengolahan air minum di Instalasi PDAM.

D.    Manfaat Penelitian
Dapat memberikan informasi tentang dampak paparan kaporit terhirup terhadap vital sign petugas PDAM.

E.     Definisi Operasional
1.      PDAM adalah Perusahaan daerah yang mengelola dan memproses air bersih untuk dikonsumsi masyarakat umum. Penelitian dilakukan pada unit IKK PDAM Bantul yang berlokasi di kamijoro dan guwasari.
2.      Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
3.      Ketertiban menggunakan Alat Pelindung Diri yang dimaksud adalah selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat bekerja terutama saat kontak langsung dengan bahan kimia.
4.      Kaporit adalah bahan kimia yang berfungsi sebagai desinfektan untuk mereduksi bakteri secara umum dan membunuh bakteri pathogen. Kaporit yang dimaksud adalah yang berupa bubuk (sodium).
5.      Vital sign adalah tanda-tanda vital yang ditimbulkan oleh makhluk hidup karena adanya stimulasi dari dalam maupun dari luar tubuh. Vital sign yang diukur adalah tekanan darah, frekuensi denyut nadi, dan frekuensi pernapasan.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif-eksploratif..
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat      : Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro, Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
2.      Waktu       : November - Desember 2012
C.    Subjek Penelitian
Semua petugas PDAM pada instalasi Kamijoro dan instalasi Guwasari kabupaten Bantul.
D.    Variabel Penelitian
Variabel bebas             : Alat Pelindung Diri (APD)
Variabel tergayut        : Respon biologis
E.     Metode Pengumpulan Data
Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu dengan cara sebagai berikut:
1.      Observasi
Peneliti secara langsung mengamati proses penyebaran kaporit pada PDAM di Kabupaten Bantul. Pada saat dilakukan observasi maka diperlukan lembar observasi yang telah dimodifikasi dari buku pengantar kesehatan lingkungan. Lembar observasi akan diisi oleh semua petugas PDAM.
Tujuan dari observasi ini yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai langkah-langkah penyebaran kaporit yang mampu dilihat oleh indera peneliti.
2.      Interview (Wawancara)
Peneliti secara langsung menanyakan kepada orang-orang yang bertugas dalam kegiatan penyebaran kaporit di PDAM. Tujuan dari wawancara ini yaitu untuk mengumpulkan data mengenai apa yang tidak dapat diketahui secara langsung sehingga perlu diadakan pertanyaan, hal ini sebagai data pendukung teknik observasi sehingga data yang diperoleh valid.
3.      Quisioner
Peneliti memberikan quisioner kepada responden untuk mengetahui kemungkinan faktor lainnya yang mempengaruhi respon biologis petugas PDAM.
4.      Kajian Literatur
Tujuan dari kajian literatur ini adalah untuk memperoleh  data yang valid, hal ini dapat diketahui dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan teori yang ada, selain itu juga untuk mendukung data yang akan dapat diperoleh.

F.     Alat dan Bahan
a.       Kamera
b.      Alat tulis
c.       Alat pengukur tekanan darah (Tensoval)
d.      Tissue
e.       Stopwatch
f.       Lembar Quisioner
G.    Cara Kerja
a.       Mengunjungi Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro, Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
b.      Melakukan wawancara kepada pihak PDAM.
c.       Memberi quisioner dan mengukur respon biologis petugas PDAM.
d.      Melakukan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan penyebaran kaporit dan pengolahan air minum.
e.       Mendokumentasikan dan menganalisis data yang diperoleh.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Penelitian mengenai Hubungan ketertiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan respon biologis petugas Perusahaan Air Minum (PDAM) dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro yang terletak di Dusun Kamijoro, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dan Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari dan diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Hasil Observasi dan Pemeriksaan Respon Biologis
No.
Responden
Lama Bekerja
Pekerjaan
Respon biologis
BB (Kg)
TB (Cm)
T. Darah (mmHg)
F. Denyut Nadi (s)
F. Pernafasan (s)
1.       
Rudi
2 thn
Operator
67
172
106/66
71
26
2.       
Agus
21 thn
Operator
57
174
111/78
72
23
3.       
Nurrofiq
3 hr
Operator
49
165
110/75
75
22
4.       
Amir
26 thn
Mantan operator
70
164
138/91
89
26
5.      n
Nita
1,5 thn
Staf  Lab
61
160
111/68
91
32
6.       
Ema
1,5 thn
Staf Lab
59
161
110/69
86
30
7.       
Epi
1 thn
Administrasi
50
168
123/87
79
22
8.       
Heri
3 thn
Administrasi
54
168
127/71
78
22
9.       
Sutekno
26 thn
Instalasi
72
173
113/73
73
20


B.     Pembahasan
Penelitian ini dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air Minum Kamijoro Instalasi Pengolahan Air Minum Guwasari, Kabupaten Bantul.
a.      Analisis Tabel Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dianalisis dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 2. Jenis pekerjaan (Operator dan nonoperator)
Kategori  pekerjaan
Responden
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tekanan Darah
FDN
FP
Operator
Rudi
22,6
106/66
71
26
Agus
18,9
111/78
72
23
nurrofiq
18
110/75
75
22
Rata-rata
19,8
109/73
72,7
23,7
Nonoperator
Amir
26
138/91
89
26
Nita
23,8
111/68
91
32
Ema
22,7
110/69
86
30
Epi
17,7
123/87
79
22
Heri
19,1
127/71
78
22
Sutekno
24
113/73
73
20
Rata-rata
22,2
120,3/76,5
82,7
25,3
           
Pada Instalasi PDAM Kamijoro hanya ada dua operator yang diwawancarai yaitu Rudi dan Nurrofiq. Nurrofiq baru bekerja 3 hari. Sedangkan pada Instalasi PDAM Guwasari ada satu operator yang diwawancarai. Pada petugas operator, rata-rata Indeks Massa Tubuh (IMT) ideal atau normal. Tekanan darah pada ketiga operator adalah rendah. Karena berdasarkan teori, tekanan darah normal adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Tekanan darah normal manusia (sumber….)
No
Kategori
Tekanan
Sistole (mm Hg )
Tekanan
Diastole (mm Hg )
1
2
Laki- laki dewasa
Perempuan dewasa
124 – 136
124 – 127
77 – 84
63 – 74
           
Frekuensi denyut nadi masing-masing petugas operator adalah 71, 72, 75 yang menunjukkan normal karena berdasarkan teori, frekuensi denyut nadi normal usia lebih dari 21 tahun adalah 69 – 100 x/menit. Untuk frekuensi pernapasan adalah 26, 23, 22 yang menunjukkan bahwa frekuensi pernapasannya normal. Karena frekuensi pernapasan adalah dewasa 16 – 25 x/menit.
Petugas non operator berjumlah enam orang. Empat orang dari Instalasi PDAM Kamijoro dan dua orang dari Instalasi PDAM Guwasari. Nita, Ema, dan Sutekno memiliki rata-rata tekanan darah yang rendah, Epi dan Heri memiliki tekanan darah normal, sedangkan Amir memiliki tekanan darah yang tinggi. Tekanan darah Amir tinggi kemungkinan karena kurangnya aktivitas dimana Amir adalah kepala bagian produksi yang tidak melakukan aktifitas berat dan hanya mengunjungi unit-unit pada saat tertentu saja. Frekuensi denyut nadi petugas non operator rata-rata normal. Namun diantaranya Nita memiliki frekuensi denyut nadi yang tinggi. Kemungkinan disebabkan karena Nita sedang dalam keadaan hamil 7 bulan. Untuk frekuensi pernapasan rata-rata normal. Hanya Nita dan Ema yang memiliki frekuensi pernapasan tinggi. Kemungkinan karena Nita sedang hamil, sedangkan Ema baru saja selesai melakukan aktifitas.
Berdasarkan penjelasan diatas, tidak dapat disimpulkan adanya pengaruh antara petugas operator dan petugas non operator karena jumlahnya yang tidak seimbang yakni 3 petugas operator dan 6 petugas non operator. Selain itu, respon biologis tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Tabel 4. Lama bekerja Responden
Lama bekerja
Responden
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tekanan Darah
FDN
FP
3 hari
Nurrofiq
18
110/75
75
22
1-5 tahun
Rudi
22,6
106/66
71
26
Nita
23,8
111/68
91
32
Ema
22,7
110/69
86
30
Epi
17,7
123/87
79
22
Heri
19,1
127/71
78
22
Rata-rata
21,18
115,4/72,2
81
26,4
20-30 tahun
Agus
18,9
111/78
72
23
Amir
26
138/91
89
26
Sutekno
24
113/73
73
20
Rata-rata
22,9
120,7/80,7
78
23
           
Pada tabel 3. Nurrofiq baru bekerja 3 hari dan belum sama sekali kontak langsung dengan kaporit. Indeks Massa Tubuh (IMT) nya ideal. Tekanan darahnya dibawah normal, namun frekuensi denyut nadi dan frekuensi pernapasan normal.
Petugas yang lama bekerja 1-5 tahun yakni Rudi, Nita, Ema, Epi, dan Heri. Indeks Massa Tubuh (IMT) rata-rata adalah normal. Kecuali Nita adalah 23,8 kemungkinan karena sedang dalam keadaan hamil. Frekuensi denyut nadi rata-rata normal, frekuensi pernapasan rata-rata normal kecuali Nita dan Ema yaitu  32 dan 30 kali/menit.
Petugas  yang lama bekerja 20-30 tahun yaitu Agus, Amir, dan Sutekno. IMT Agus ideal sedangkan Amir dan Sutekno tidak ideal yaitu 26 dan 24. Hal ini kemungkinan disebabkan frekuensi waktu bekerjanya kurang dan kurang beraktivitas. Frekuensi denyut nadi rata-rata normal sedangkan frekuensi pernapasan untuk Amir tidak normal.
Berdasarkan penjelasan diatas, lama bekerja berpengaruh terhadap respon biologis petugas PDAM. Pada kasus ini, peningkatan jabatan menyebabkan kurangnya aktivitas dan frekuensi waktu bekerja yang rendah sehingga mempengaruhi respon biologis petugas PDAM.
Tabel 5. Jenis kelamin Responden
Jenis kelamin 
Responden
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tekanan Darah
FDN
FP
Laki-laki
Rudi
22,6
106/66
71
26
Agus
18,9
111/78
72
23
nurrofiq
18
110/75
75
22
Amir
26
138/91
89
26
Epi
17,7
123/87
79
22
Heri
19,1
127/71
78
22
Sutekno
24
113/73
73
20
Rata-rata
20,9
118,3/77,3
76,7
23
Perempuan
Nita
23,8
111/68
91
32
Ema
22,7
110/69
86
30
Rata-rata
23,25
110,5/68,5
88,5
31

Pada tabel 4. Jumlah responden laki-laki sebanyak 7 orang dan responden wanita sebayak 2 orang. Rata-rata IMT responden laki-laki normal yaitu 20,9 kecuali Amir dan Sutekno. Tekanan darah rata-rata rendah, frekuensi denyut nadi rata-rata normal, dan frekuensi pernapasan rata-rata normal.
Pada responden perempuan, rata-rata tekanan darah rendah, frekuensi denyut nadi normal, namun frekuensi pernapasan diatas normal. Responden Nita sedang dalam keadaan hamil 7 bulan.
Berdasarkan penjelasan diatas, tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hanya pada frekuensi pernapasan tidak normal, hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor luar yakni kehamilan dan aktivitas.
b.      Proses Pembubuhan Kaporit
Tipe instalasi pada kedua unit pengolahan air minum tersebut adalah pengolahan air permukaan dengan sumber air bakunya adalah air sungai Progo. Sistem pengolahan air di kedua unit pengolahan air minum tersebut adalah pengolahan lengkap yang terdiri dari proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.
1.      Koagulasi yaitu proses pembubuhan bahan kimia Al2(SO4)3 (Tawas) kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.
2.      Flokulasi yaitu  proses pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku (air sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan terjadi dengan baik jika di tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai) kemudian dilakukan pengadukan lambat.
3.      Sedimentasi
Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih.
4.      Filtrasi
Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir silika.
5.      Desinfeksi yaitu Pemberian desinfektan (kaporit) pada air hasil penyaringan bertujuan agar dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri pathogen (bakteri penyebeb penyakit).
Kaporit digunakan pada proses terakhir setelah air sudah jernih dan bebas dari kotoran. Proses tersebut adalah proses disinfektan yaitu proses mereduksi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri patogen.  Air yang sudah diproses, masuk kedalam gentong yang berisi kaporit yang telah dialirkan melalui pipa-pipa kecil. Air tersebut kemudian sudah dapat didistribusikan ke masyarakat.
Pada pembubuhan kaporit, prosesnya tidak begitu rumit, tidak memerlukan waktu yang lama, dan tidak memerlukan banyak tenaga manusia.  Kaporit yang dibubuhkan adalah ± 5 kg, pembubuhan ini dilakukan tiga kali seminggu pada pagi, siang, dan malam. Proses pembubuhan kaporit dilakukan didalam ruangan dengan cara langsung dimasukkan kedalam gentong, pada proses ini operator menggunakan masker dan ditutup lagi dengan kain atau kaos sehingga benar-benar terlindungi dari kaporit. Setelah itu, dialirkan ke gentong selanjutnya yang kemudian di mixer secara otomatis dan terakhir dialirkan melalui pipa-pipa kecil menuju instalasi.
c.       Pengaruh faktor lain
Pada lembar quisioner, responden yang merokok adalah petugas administrasi yang tidak langsung turun lapangan namun respon biologisnya rata-rata normal. Sedangkan operator atau petugas penyebar kaporit hanya Rudi yang dahulu pernah merokok namun tidak menunjukkan respon biologis yang tidak normal. Petugas operator tidak merasakan gejala-gejala yang timbul setelah menebar kaporit, riwayat penyakit pun tidak ada. Petugas operator tidak mengonsumsi suplemen, dan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Petugas operator juga mengaku bahwa mereka diharuskan dan selalu menggunakan masker atau kain.
Pada petugas staf lab, ada seorang wanita yaitu Nita yang sedang hamil 7 bulan sehingga menunjukkan respon biologis yang rata-rata diatas normal atau tinggi.
Berdasarkan keseluruhan pembahasan, hubungan antara ketertiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Respon Biologis Petugas PDAM belum dapat diketahui karena beberapa faktor, antara lain:
1.      Petugas operator yang berhasil diwawancarai hanya 3 orang dan yang aktif bekerja hanya 2 orang, karena salah satu merupakan pegawai baru. Sehingga data ini tidak dapat mewakili keseluruhan operator untuk sampai pada simpulan akhir.
2.      Pembubuhan kaporit langsung pada gentong yang disiapkan kemudian di campur sebentar lalu langsung teralirkan ke gentong berikutnya. Gentong tersebut tinggi sehingga kapasitas bubuk kaporit yang terhirup sedikit dan yang terkena kulit atau mata sangat rendah.
3.      Alat mixer dengan otomatis akan mencampur kaporit dengan air sehingga tidak banyak membutuhkan bantuan manusia.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan data pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.      Faktor yang mempengaruhi respon biologis petugas PDAM, antara lain: Umur, lama bekerja, kondisi individual petugas (hamil), jenis pekerjaaan.
2.      Belum dapat diketahui adanya antara hubungan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan vital sign petugas PDAM karena keterbatasan operator, waktu, dan jarak unit yang sangat jauh, serta lama bekerja.
Pengolahan air minum di Instalasi PDAM Kamijoro dan Guwasari meliputi tahap-tahap yaitu proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.
B.     Saran
Penelitian selanjutnya diharapkan agar dapat mewawancarai lebih banyak lagi operator PDAM agar dapat mengetahui hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan vital sign petugas PDAM.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2011. Bahaya Kaporit Pada Air. Diakses pada http://abdisatya.blogspot.com/2011/05/bahaya-kaporit-pada-air.html hari kamis, 11 Oktober 2012.

Anonim,2011. Bahaya Kaporit. Diakses pada http://bahayakaporit.blogspot.com/ hari kamis, 11 Oktober 2012.